Selasa, Juni 23, 2015

Pantaskah Negara Membuat Target Atas Pendapatan Cukai?

Tidak ada komentar:
Pertama Kalinya dalam 7 Tahun, Penerimaan Bea Cukai Takkan Penuhi Target, Metrotvnews.com, 27 Desember 2014
Penerimaan Negara, Pemerintah Bergantung Pada Cukai, Bisnis.com 16 Januari 2015.
Penerimaan Bea Cukai Februari Tidak Capai Target, Republika.co.id Jumat, 13 Maret 2015
Untuk membahas pertanyaan tersebut mari kita mulai dengan memahami maksud dari Cukai itu sendiri. Dalam wikipedia dijelaskan, bahwa Cukai adalah pungutan negara yang dikenakan terhadap barang-barang tertentu yang mempunyai sifat dan karakteristik tertentu, yaitu: konsumsinya perlu dikendalikan, peredarannya perlu diawasi, pemakaiannya dapat menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat atau lingkungan hidup, atau pemakaiannya perlu pembebanan pungutan negara demi keadilan dan keseimbangan.

Di Indonesia, cukai dipungut oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Departemen Keuangan Republik Indonesia. Barang kena cukai meliputi:

  1. etil alkohol atau etanol, dengan tidak mengindahkan bahan yang digunakan dan proses pembuatannya
  2. minuman yang mengandung etil alkohol dalam kadar berapa pun, dengan tidak mengindahkan bahan yang digunakan dan proses pembuatannya, termasuk konsentrat yang mengandung etil alkohol
  3. hasil tembakau, yang meliputi sigaret, cerutu, rokok daun, tembakau iris, dan hasil pengolahan tembakau lainnya, dengan tidak mengindahkan bahan yang digunakan atau bahan pengganti atau bahan pembantu dalam pembuatannya.
pita cukai
Uraian tersebut di atas menjelaskan bahwa penarikan cukai terhadap suatu barang, mempunyai tujuan yang berbeda dari penganaan biaya oleh negara atas barang atau jasa yang umum kina kenal dengan pajak.

Pajak adalah kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara bagi sebesarbesarnya kemakmuran rakyat.

Meskipun cukai dinilai merupakan salah satu jenis pajak tidak langsung, namun pada dasarnya
cukai mempunyai perbedaan yang mendasar dengan pajak tidak langsung lainnya. Hal
ini dikarenakan:
  1. cukai dikenakan terhadap barang-barang tertentu secara selektif.
  2. tujuan pengenaan cukai adalah untuk setiap jenis barang berbeda-beda, sedangkan pajak biasanya dikenakan secara umum.
  3. tarif cukai berbeda-beda antara satu obyek dengan obyek yang lain, sedangkan pajak biasanya mempunyai satu tarif untuk seluruh obyek cukai.
Pertimbangan bahwa barang kena cukai adalah karena sifat atau karakteristiknya berdampak negatif bagi kesehatan, lingkungan hidup dan tertib sosial ingin dibatasi secara ketat peredaran dan pemakaiannya. Maka sebenarnya cukai adalah salah satu cara untuk mengendalikan peredaran atau tingkat konsumsinya, yaitu melalui penggunaan instrumen tarif (biaya), yang mengiringi kebijakan-kebijakan pengendalian lainnya.

penerimaan cukai meningkat, keberhasilan atau kegagalan?
Oleh karena itu, membuat target (tinggi) atas pendapatan cukai, dimana pertimbangan cukai itu adalah sebagai pengendali atas dampak negatif dari barang yang bersangkutan bukan lah hal yang tepat, dan bertolak belakang dari prinsip penerapan cukai itu sendiri sebagai pengendali.

Terlepas dari unsur kepentingan bisnis dan ekonomi maka, "Pendapatan cukai semestinya menjadi indikator, dimana apa bila pendapatan cukai rendah maka itu adalah keberhasilan, atau apa bila pendapatan cukai tinggi maka itu adalah kegagalan, atas pengendalian beredarnya barang-barang yang dapat berdampak negatif masyarakat".

Rabu, Desember 10, 2014

Smart City Adalah . . .

Tidak ada komentar:
forbes.com
Banyak (Pemimpin) kota-kota besar di dunia, termasuk Jakarta ingin (kotanya) menyandang gelar sebagai Smart City.

Yup...! Kata smart saat ini memang menjadi trend untuk disematkan pada berbagai macam hal dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa di antaranya seperti smart phone, smart card, smart car dan lain sebagainya, termasuk yang dibahas saat ini smart city.

Lalu apakah definisi dari smart city tersebut, sehingga membuat sebuah kota seperti memiliki 'gengsi' (kebanggan) untuk bisa menyandangnya?

Dalam Wikipedia (10/12/2014) Smart City (kota pintar) dijelaskan sebagai kota yang menggunakan teknologi digital untuk meningkatkan kinerja dan kesejahteraan, untuk mengurangi biaya dan konsumsi sumber daya, dan untuk berperan lebih efektif dan aktif dengan masyarakat. Sektor kunci 'smart' dalam hal ini adalah termasuk dalm bidang transportasi, energi, kesehatan, air dan limbah. Sebuah kota yang pintar harus mampu merespon lebih cepat untuk kota dan tantangan global, daripada kota lain yang masih diselenggarakan secara 'konvensional'.

Konsep smart city (sampai saat ini) sebenarnya tidak ada yang baku, demikian pula untuk menilai atau mengukurnya. Namun demikian, untuk menambah pemahaman tentang smart city, berikut ini beberapa definisinya yang diperoleh dari dari beberapa sumber:

  • Smart Cities Council: "Smart city adalah kota yang memiliki teknologi digital tertanam (embedded) di semua fungsi kota."
  • Frost & Sullivan: "Kami mengidentifikasi delapan aspek kunci yang menentukan smart city: smart governance, smart energy, smart building, smart mobility, smart infrastructure, smart technology, smart healthcare, dan smart citizen"
  • IEEE Smart Cities: "Smart city menyatukan teknologi, pemerintah dan masyarakat untuk memungkinkan karakteristik sebagai berikut: smart cities, a smart economy, smart mobility, a smart environment, smart people, smart living, smart governance"
  • Business Dictionary:. "Sebuah wilayah perkotaan yang dikembangkan untuk menciptakan pembangunan berkelanjutan ekonomi dan kualitas hidup yang tinggi dengan unggul dalam beberapa bidang utama, ekonomi, mobilitas, lingkungan, masyarakat, hidup, dan pemerintah. Keunggulan di bidang-bidang utama tersebut dilakukan melalui sumber daya manusia yang kuat, sumber daya sosial, dan / atau infrastruktur ICT. "
  • Pemerintah Inggris: "Konsep ini tidak statis, tidak ada definisi mutlak smart city, tidak ada titik akhir, melainkan proses, atau serangkaian langkah, dimana kota menjadi lebih 'nyaman untuk ditempati' (liveable) dan memiliki daya tahan dan, karenanya, mampu merespon cepat untuk tantangan baru. "
  • Caragliu dan Nijkamp: "Sebuah kota dapat didefinisikan sebagai 'pintar' (smart) ketika investasi dalam modal manusia dan sosial dan tradisional (transportasi) dan pembangunan ekonomi yang berkelanjutan (ICT) komunikasi infrastruktur bahan bakar modern dan kualitas hidup tinggi, dengan manajemen yang bijaksana dari alam sumber daya, melalui aksi partisipatif dan keterlibatan. "
  • Giffinger et al .: "Daya saing regional, dalam hal transportasi dan ICT ekonomi regional, sumber daya alam, manusia dan modal sosial, kualitas hidup, dan partisipasi warga dalam pemerintahan kota."
Semoga penjelasan dari beberapa sumber tersebut membantu memberi pemahaman lebih baik mengenai definisi smart city.

Sebelum Memulai Belajar, Berdoa di Sekolah Gue Dulu Tuh.. Begini...

Tidak ada komentar:
Dulu waktu sekolah, seinget gue, untuk mulai belajar Ketua Kelas cuma memimpin dengan mengucap:

Siap...!
Berdoa...!
(siswa berdoa sesuai agama masing-masing)
Selesai...!
Beri Salam...!"
(siswa/siswi besama-sama mengucap salam kepada guru "Selamat pagi Bu/Pak Guru...!)

Begitu simpel... Gak ada yang aneh-aneh... Ga ada yang perlu dipermasalahkan...

What's wrong with it?
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...