Rabu, Oktober 13, 2010

Toge Yang Menggugah Nafsu, Ternyata Banyak Manfaatnya Untuk Kesehatan

bonus: sexy baby
mau lihat gambar
lebih jelas
ada di bawah
Dalam artikel ini saya bukan mau mengangkat cerita porno atau hal-hal yang taboo.

Akan tetapi toge (tauge) yang dimaksud di sini adalah bahan makanan yang merupakan kecambah yang berasal dari biji-bijian, seperti kacang hijau, yang memiliki bagian putih dengan panjang hingga tiga sentimeter. Bentuk kecambah diperolah setelah biji diproses selama beberapa hari. Bentuk taoge memang tergolong kecil dibandingkan dengan jenis sayuran lain. Meskipun begitu, aneka makanan yang dibuat dengan menggunakan toge sering kali membuat selera makan menjadi lebih besemangat.
namun demikian untuk membuat anda lebih bersemangat dalam artikel ini terdapat bonus berupa gambar sexy baby... yang akan semakin tersingkap jelas sejalan dengan penyampaian artikel ini.
Kembali dengan toge sebagai bahan makanan, lihat saja foto-foto toge di bawah ini yang begitu menggugah nafsu makan....

1. Toge goreng bogor 

(sexychef.wordpress.com)

2. Bakwan toge

(mocher.wordpress.com)

3. Oseng toge

(www.blogotainmen.com)

4. Ketoprak

(www.diningindonesia.com)


Baru melihatnya saja sudah terbayang nikmat...

Sebuah artikel KapanLagi.com menjelaskan bahwa selain menggairahkan selera makan, sayuran taoge jenis apapun, baik taoge kacang hijau, taoge kedelai, taoge alfafa, maupun jenis taoge lainnya mengandung banyak sekali senyawa fitokimiawi yang sangat berkhasiat. Salah satunya adalah kanavanin (canavanine), jenis asam amino bahan penyusun arginin yang paling banyak tersimpan dalam taoge alfafa.

Jika dibandingkan dengan bijinya, kecambah atau taoge lebih bergizi. Protein taoge lebih tinggi 19 persen dibandingkan dengan kandungan protein dalam biji aslinya. Kenapa bisa begitu? hal ini disebabkan, selama proses menjadi kecambah, terjadi pembentukan asam-asam amino esensial yang merupakan penyusun protein.

Banyak sekali manfaat yang kita peroleh dari tumbuhan yang sangat kecil ini, diantaranya adalah:

Mencegah Kanker

bonus: sexy baby
masih penasaran?
di bawah masih ada
gambar yang lebih jelas
Proses menjadi taoge telah menguraikan 90 persen rantai olisakarida menjadi karbohidrat sederhana, sehingga senyawa tersebut mudah sekali diserap tubuh, tanpa menghasilkan gas. Karena mengandung banyak serat dan air, taoge membantu pengurasan kotoran dalam usus besar. Hal ini menjadi kekuatan ganda taoge dalam memerangi kanker. Dengan mendorong kotoran segera meinggalkan usus besar, sehingga tidak ada lagi zat-zat racun dalam kotoran yang dapat diserap tubuh. Dan ini akan mencegah menumpuknya zat racun yang dapat merangsang berseminya benih kanker.



Mencegah Serangan Jantung dan Stroke

Para penyandang resiko stroke dan serangan jantung yang banyak disebabkan karena kadar lemak darah melambung, dianjurkan untuk lebih banyak makan taoge. Hal ini disebabkan, saponin dalam taoge akan mengahancurkan lemak jahat LDL tanpa megganggu kandungan lemak yang baik HDL. Dan saponin yang besar dapat diperoleh dalam taoge alfafa ketika proses biji-bijian menjadi kecambah, yang secara umum kadar saponinnya naik 450 persen.


Mencegah Osteoporosis

Estrogen alami yang terdapat dalam taoge dapat berfungsi sama dengan estrogen sintetis, tetapi keunggulannya estrogen alami tak memiliki efek samping. Sehingga estrogen dalam taoge secara nyata dapat meningkatkan kepadatan tulang, susunan tulang dan mencegah keroposnya tulang.

Membangkitkan Sistem Kekebalan Tubuh

Saponin taoge juga dapat membangkitkan sistem kekebalan tubuh, yaitu dengan cara meningkatkan aktivitas sel pembuluh alami (natural killer cell), khususnya sel T-limfosit dan interferon. Selain sarat DNA, taoge kaya akan zat antioksidan yang membentengi tubuh dari radikal bebas perusak sel DNA.

Manfaat Lainnya

Karena bersifat alkali (basa), maka taoge sangat baik untuk menjaga keasaman lambung dan memperlancar pencernaan. Taoge juga baik untuk kecantikan, yaitu membantu meremajakan dan menghaluskan kulit, menghilangkan flek-flek hitam pada wajah, menyembuhkan jerawat, menyuburkan rambut dan juga melangsikan tubuh. Karena mengandung Vitamin E, taoge juga dapat membantu meningkatkan kesuburan. Bagi wanita yang rajin makan taoge, akan membantu terhindar dari kanker payudara, gangguan menjelang menstruasi, pramenopause dan gangguan akibat menopause.

.
.
.


 Oh ya...
.
.
.
.
.
Masih terbayang-bayang
dengan bonusnya ya?
.
.
.
.
.
.
.
.
scroll down...
please..
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.Wow... !!
.
.
.
.
.

real saxy baby ... please dont get dirty ... !!!

Senin, Oktober 11, 2010

KBBI offline

(ebsoft.web.id)
Bingung atau tidak tahu padanan kata yang tepat dalam bahasa Indonesia. Kini anda bisa memanfaatkan Software Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Offline. Software gratis ini di perkenalkan oleh Ebta Setiawan, seorang programer dari Yogyakarta dengan menggunakan bahasa pemograman Delphi.

KBBI versi 1.1 ini merupakan versi offline dari KBBI Daring ( edisi III) yang ada di PusatBahasa (http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/).

Software ini tidak perlu proses installasi (portable), anda hanya perlu extract dari isi file zip kedalam sebuah folder, kemudian cukup double click maka software ini akan langsung running di komputer Windows Anda.

Pembuatnya sengaja tidak ada petunjuk penggunaan atau file bantuan, karena penggunaannya sangat mudah, tinggal memasukkan kata yang akan dicari dan tekan enter atau klik tombol cari, maka akan ditampilkan arti kata yang dimaksud jika ada.

Penampilannya sudah di format sedemikian rupa agar memudahkan pengguna membaca dan mencari definisi kata yang dimaksud. Dua kolom sebelah kiri merupakan hasil kata pencarian, dengan penjelasan :
  • Kolom atas merupakan daftar kata yang merupakan kata dasar
  • Kolom kedua merupakan hasil pencarian, tetapi tidak didapatkan pada kata dasar tetapi pada kata turunan atau majemuk ( di istilahkan dengan sub lema kalau tidak salah)

Bagian Kanan merupakan definisi kata yang ditampilkan dengan warna yang memberikan arti sebagai berikut :
  • Warna merah dengan latar kuning adalah lema (kata dasar)
  • Warna merah dengan nomor adalah banyaknya arti aatu definisi kata
  • warna merah saja tanpa latar merupakan sub lema atau kata turunan
  • warna biru adalah jenis kata atau termasuk dalam istilah apa
  • warna hitam adalah arti aau definisi kata
  • warna hijau adalah contoh penggunaan kata dalam kalimat
  • warna ungu adalah contoh dalam peribahasa
  • Warna hitam dengan background hijau merupakan hasil pencarian yang terdapat pada sub-lema atau kata turunan
Bagi yang ingin download silahkan dari link ini KBBI v1.1 ( box.net) atau KBBI v1.1 (4shared) ukuran sekitar 3.2 MB

[Update Versi 1.1 merupakan perbaikan file yang dideteksi sebagai virus oleh beberapa Antivirus (Kaspersky, AVira )]

Jakarta Kota Yang Kaya Dengan Femomena

Finding Jakarta’s Beauty

Englishman Stephen Cairns and Indonesian Daliana Suryawinata have found themselves in the interesting position of proving wrong naysayers who perpetually complain about Jakarta’s haphazard urban sprawl. The two are also curators of “Open City Jakarta,” an exhibition at the Erasmus Huis. The exhibition, which runs until Dec. 1, actually celebrates the capital’s more endearing qualities.

The exhibition is an offshoot of “Open City: Designing Coexistence,” a project of the fourth International Architecture Biennale Rotterdam.

The IABR is a thematically-oriented series of exhibitions, conferences and lectures in the field of architecture and urbanism that looks into cities in third-world countries to see how distinct communities and groups settle and interact with each other and find ways to improve their environment.

Aside from Jakarta, other cities that are a part of the project include Addis Ababa in Ethiopia, Istanbul in Turkey and Sao Paulo in Brazil.

For Jakarta, the IABR 2009 committee collaborated with Ikatan Arsitek Indonesia (Indonesian Architects Association) to hold the Gotong Royong City competition, which invited architects from all over the world to contribute ideas on how to make Jakarta more livable. The result of this collaboration is the “Open City Jakarta” exhibition.

“I really like Jakarta,” said Cairns, head of the architecture department at the prestigious University of Edinburgh, last week. “It’s one of my favorite cities.”

The statement, made at a time when traffic and floods are a daily reality for Jakartans, seems quite ironic at first glance.

Yet Cairns may have a unique perspective of the capital that its residents often miss.

After all, he is no occasional tourist.

(www.promolagi.com)
Since 2001, he has been conducting design and architectural research projects with a number of Jakarta’s universities and has studied the slums and the city’s peripheral zones.

“Last night on [Jalan] Pecenongan, I had dinner at a warung [food stall] on the streets. There were people selling me DVDs, fans and torches. There was also a band that came and played. It’s a very lively street life and it was late at night,” Cairns said.

In the morning, he was surprised to see that all the warungs were gone.

In their place were auto repair shops. “It’s not a chaos, that’s the key,” he said.
“It’s a lovely ecosystem in which the middle-class people maintain a reciprocal relationship with the poor people. There’s a mutual understanding in it. It’s a very, very rich urban phenomenon.”
Cairns said that his own city, Edinburgh, pales in comparison.

“Edinburgh is one of the most beautiful cities in the world. Yet, they don’t know how to produce the street life with that kind of richness. It’s very programmed, which means surprises are very difficult to find.”

For her part, Daliana, who was born in Jakarta, used to feel the same as most Jakartans.

When she left for Rotterdam in the Netherlands to pursue a masters degree at the Berlage Institute in 2003, she was actually looking forward to leaving all of Jakarta’s madness.

“I was happy to leave all the mess behind, such as the traffic problem, social issues and my gated way of life of sitting in a car moving between air-conditioned buildings without touching the city, the lack of public space and the impossibility to walk as a pedestrian,” she said.

(www.su-utrecht.nl)
In her case, being on the other side of the world helped her put things in perspective. “The restaurants and street-side cafes are great [in Rotterdam]. You feel safe. Nobody’s going to rob you. But [Rotterdam is] done. It’s settled. Everything is finished.

“Later on, I missed the street vendors and all the diversity that Jakarta has, which Rotterdam does not have.

"And, by distancing oneself from Jakarta, one can have a clearer and more optimistic observation of the city than those who are in the city,” she said.

After finishing her degree, Daliana established the Rotterdam-based Suryawinata-Heinzelmann Architecture and Urbanism firm with friends Florian Heinzelmann and Tobias Hoffman.

The firm has been working closely with a number of design firms in Jakarta on some of their projects.

“I think Western urbanism in Europe and the United States is stuck,” Daliana said. “They know what to do, they’ve been planning their cities for ages and they’re working well. But they’re also looking for something to spice up the city life more.

"That’s why there are more research and architectural urban projects going to the south, like Southeast Asia and South America. They want to learn form these informal [environments] and improve it.”

The “Open City Jakarta” exhibition is mounted at the open-air pavilion of the Erasmus Huis. It utilizes crates, fiberboards and corrugated plastic roofs to recreate the twists and turns of a Jakarta kampung.

The exhibition features maps, diagrams, posters and pictures from 12 projects. Wooden shadow puppets attached to slanting walls generate an ingenious interplay of light and shadow in the pavilion.

The puppets, created by artist Eko Nugroho, portray stakeholders in Jakarta’s city life. Made of perforated fiberboard, the puppets guide the visitors to
“We try to note the chaotic configuration of Jakarta in the exhibition,” Daliana said.


“The aim is to ask people to think differently about Jakarta, to look at Jakarta and not to judge it against Western models,” Cairns said.

“Then, Jakarta will always look bad because it’ll never come up to Western standards.”

For the exhibition, Cairns and researchers from the University of Indonesia are also presenting “Cultures of Legibility,” an analytical study of the co-existence of urban and desa kota (rural) activities in the peripheral zones of Jakarta.

“If you go to the BSD [Bumi Serpong Damai] area, you can have a cup of Starbucks cappuccino at the mall and within three minutes, you can be in the middle of the rice fields with buffaloes,” Cairns said. “I find that absolutely amazing.”

Rather than seeing desa kota as a fleeting phase of development, in which the rice fields will one day vanish and be replaced by modern facilities, Cairns sees it as a model for Jakarta’s unique urban condition.

“Unless we change the way we think about the city, then this will always look like a phase on the way to becoming Los Angeles or Rotterdam rather than something that’s legitimate on its own rights,” he said.

“At the moment it’s a beautiful balance between the two elements. And again, you don’t find it in Los Angeles, New York or Rotterdam.”

Erik Prasetya, whose photographs feature at the exhibition, is of a different opinion. “Jakarta is not pretty at all. It was never designed to be beautiful like Paris or New York.”

Despite the bleak images that he has captured, Erik still remains hopeful. “We didn’t have a busway five years ago,” he said.

“Neither did we have car-free days. Positive changes are happening in the city, albeit very slowly. We all have to remain optimistic and fight for them.”

The curators are definitely not blind to the capital’s faults, but in this particular exhibition, they are choosing to look at the bright side. “Jakarta is not yet a beauty, of course,” Daliana said.

“There are mistakes, but also a lot of potential that you wouldn’t want to just get rid of.”

For his part, Cairns remains upbeat about the capital. “Jakarta should be one of the cities we should look at positively, not only criticize.”
artikel ini disalin penuh dari : JakartaGlobe
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...