Penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar di sekolah dinilai lebih unggul dibandingkan dengan bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya. Bahasa Indonesia adalah bahasa yang konsisten. Struktur penulisannya sangat jelas dan logis.
Pendapat ini dikemukakan oleh psikolog sekaligus pemerhati pendidikan dari Belanda, Annie Makkink pada kunjungannya ke Kantor Kemdikbud, Jakarta, Senin (25/02/2013).
Annie mengatakan, banyak kata yang dibentuk dalam bahasa Indonesia berasal dari sebuah kata dasar, yang diberi awalan dan/atau akhiran. Jika seseorang telah mengenal beberapa kata dasar maka sudah dapat berkomunikasi dalam bahasa Indonesia. “Penulisan dalam bahasa Indonesia mempunyai struktur yang sangat jelas. Setiap huruf mempunyai bunyi tersendiri. Apa yang ditulis itulah yang diucapkan,” kata lulusan jurusan psikologi dari Universitas Groningen Belanda ini.
Tampilkan postingan dengan label Bahasa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bahasa. Tampilkan semua postingan
Senin, Maret 04, 2013
Minggu, September 23, 2012
"Petahana" : Kosa Kata Baru Bahasa Indonesia?
Sebelumnya mohon maaf jika artikel saya kali ini mungkin kurang penting, atau mungkin tidak penting sama sekali. :)
Saya sekedar ingin berbagi pengalaman, masa Pemilihan Gubernur Kepala Daerah Provinsi DKI Jakarta 2012-2017 yang baru lalu lalu, ternyata telah memperkaya perbendaharaan kosa kata bahasa Indonesia yang saya ketahui saat ini.
Dalam beberapa artikel yang saya baca terkait dengan Pilkada DKI beberapa kali saya menemukan kata yang tidak saya mengerti yaitu "petahana". Entah mengapa saat itu saya tidak langsung mencari tahu, meskipun saya benar-benar tidak tahu artinya dan tidak terpikir untuk mencari tahu.
Saya sekedar ingin berbagi pengalaman, masa Pemilihan Gubernur Kepala Daerah Provinsi DKI Jakarta 2012-2017 yang baru lalu lalu, ternyata telah memperkaya perbendaharaan kosa kata bahasa Indonesia yang saya ketahui saat ini.
Dalam beberapa artikel yang saya baca terkait dengan Pilkada DKI beberapa kali saya menemukan kata yang tidak saya mengerti yaitu "petahana". Entah mengapa saat itu saya tidak langsung mencari tahu, meskipun saya benar-benar tidak tahu artinya dan tidak terpikir untuk mencari tahu.
Senin, September 03, 2012
"Gimana Nanti Aja" atau "Nanti Gimana?"
Ada perilaku yang kurang baik dari manusia yang suka meremehkan masa depan, dalam "keasikannya" kegiatannya yang sedang dijalani pada saat "ini", kadang manusia meremehkan hal-hal yang akan terjadi di masa yang akan datang. Padahal bukan tidak mungkin hal yang akan terjadi adalah dampak (negatif) dari yang dilakukan pada saat "ini".
Kalo kata Pak Udin guru kelas 6 SD :
Kalo kata Pak Udin guru kelas 6 SD :
"Ulah ngomong kumaha engke weh, tapi ngomong, engke kumaha?!" (Jangan ngomong gimana nanti aja lah, tapi ngomong (pikir) nanti gimana?!) -sumberBijaklah atas apa yang anda lakukan saat ini.
![]() |
| Through its clever design, the Past, Present and Future watch by Daniel Will-Harris only displays the present time thus forcing you to only focus on what is happening in the now, in this very moment. (Nicola Deiana) |
Focus on the Present, to fix every mistakes in the Past and create a better Future.
Senin, Maret 28, 2011
OMG, LOL Masuk dalam Kamus Bahasa Inggris
![]() |
| esscentualalchemy.wordpress.com |
"Tentu saja bahasa singkatan lebih cepat daripada bentuk lengkapnya. Dalam hal ini pesan SMS, Twitter, dan sebangsanya membantu seseorang untuk menyampaikan hal lebih efisien, di mana terdapat batasan jumlah karakter dalam sebuah pesan," tulis Oxford.
Ketiga istilah singkatan baru itu bergabung dengan istilah-istilah lain yang sebelumnya telah diakui, seperti IMHO (in my humble opinion - menurut opini saya), TMI (too much information - terlalu banyak informasi), dan BFF (best friend forever - sahabat selamanya).
Singkatan-singkatan baru ini juga menjadi bentuk lain dari ekspresi yang berhubungan dengan kemajuan teknologi. Namun para peneliti dari Oxford ternyata juga menemukan bahwa singkatan-singkatan baru itu, sudah ada sejak lama.
Misalnya saja, singkatan OMG yang telah muncul dalam bentuk surat sejak 1917, dengan arti dan makna yang sama. Sementara singkatan LOL sudah ada sejak tahun 1960-an namun dengan makna berbeda, yakni merupakan kependekan dari little old lady.
sumber: VIVAnews
Rabu, Oktober 13, 2010
Bahsa 9aul Mengancam Bahasa Indonesia
![]() |
| (indowebster.com) |
Hal ini disampaikan Ketua Program Studi Indonesia Universitas Indonesia, Dr Maria Josephine Mantik MHum, di sela-sela acara "Potret Buram Sumpah Pemuda 1928" yang bertemakan Digitalisasi Bahasa Indonesia di Teater Mandala, Gedung Menpora di Jalan Gerbang PemudaNo.3, Tanahabang, Jakarta Pusat, Sabtu (9/10) siang.
Seperti dilansir Wartakotalive.com penggunaan bahasa gaul itu semakin kerap ditemukan di kalangan remaja saat mereka mengirim pesan singkat via ponsel, atau berkomunikasi di dunia maya melalui akun facebook. Salah satu contohnya adalah dengan menyingkat huruf dan angka dalam sebuah kata.
Misalnya saja kalimat seperti, "9ax aneh kok ay..slmet ya mo9a lan99eng.amHIen". Sebenarnya berbunyi, "Nggak aneh kok Ay, selamat ya semoga langgeng.Amin."
Bahasa gaul atau yang kerap disebut bahasa alay itu bisa merusak, bahkan melunturkan tata bahasa Indonesia jika kaum muda terus menggunakannya sehari-hari. Apalagi jika tidak diingatkan atau
diberi pengertian tentang tata bahasa Indonesia yang benar.
"Kalau mau menggunakan bahasa gaul ya total saja. Tetapi kalau mau menggunakan tata bahasa Indonesia yang benar ya jangan setengah-setengah," kata Maria kepada Warta Kota
Menurut Maria, munculnya bahasa gaul lantaran dinamika kehidupan masyarakat. Kemajuan teknologi komunikasi yang pesat turut mendorong perkembangan bahasa. Selain itu maraknya kehadiran situs
jejaring sosial di dunia maya menjadi pemicu munculnya ragam bahasa tersendiri, termasuk bahasa gaul.
"Awal tahun 2000 menjadi titik penting dalam perkembangan Bahasa Indonesia, yaitu mulai dikenalnya istilah bahasa gaul, terutama di kalangan anak muda. Masyarakat pengguna media internet memanfaatkan
bahasa gaul untuk berkomunikasi secara online. Akhirnya penggunaan bahasa gaul pun tumbuh dengan subur di dunia maya. Bahasa gaul itu saat ini dikenal dengan istilah bahasa alay," kata Maria.
Bahasa alay juga sebagai tanda bahwa kaum muda ingin diakui statusnya di pergaulan, sehingga mereka mengubah gaya tulisan dan gaya berpakaian. Bahasa alay kerap mencampuradukan bahasa asing,khususnya bahasa Inggris,menggunakan singkatan, kode, angka, dan visualisasi.
Yang menjadi kekhawatiran adalah semakin seringnya menggunakan bahasa alay, kaum muda akan semakin jauh atau tidak mengetahui tata Bahasa Indonesia yang benar.
"Oleh karena itu peran keluarga, pengajar, dan masyarakat sangat besar untuk menumbuhkan
kebanggaan menggunakan Bahasa Indonesia. Jika tidak, penggunaan bahasa alay itu akan merusak penggunaan tata Bahasa Indonesia dan bahasa lainnya," ujar Maria.
Sementara itu, Pengamat Komunikasi, Dian Budiargo, menuturkan bahwa penggunaan bahasa alay bisa menyebabkan pembentukkan pemahaman yang mengkristal di kaum muda. Hal ini dikhawtairkan akan merusak tatanan Bahasa Indonesia.
"Seperti kata lu dan gua,jika dua kata itu digunakan antar teman tidak akan menjadi masalah. Namun jika digunakan pada acara formal, maka akan muncul anggapan rendahnya tingkat profesionalisme seseorang dalam suatu hubungan kerja," ujar Dian.
Dian mengimbau kepada masyarakat, termasuk pendidik, untuk menjaga Bahasa Indonesia sebagai bahasa yang utama dan penting bagi warga negara Indonesia.
"Di era global, penguasaan bahasa asing tetap diperlukan. Namun yang lebih penting adalah menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa utama. Sehingga kekhawatiran kita akan buramnya penggunaan bahasa Indonesia di media digital yang dianggap tidak baik dan tidak benar tidak akan terjadi," ujarnya.
Link terkait : Software Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Offline
Senin, Oktober 11, 2010
KBBI offline
![]() |
| (ebsoft.web.id) |
KBBI versi 1.1 ini merupakan versi offline dari KBBI Daring ( edisi III) yang ada di PusatBahasa (http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/).
Software ini tidak perlu proses installasi (portable), anda hanya perlu extract dari isi file zip kedalam sebuah folder, kemudian cukup double click maka software ini akan langsung running di komputer Windows Anda.
Pembuatnya sengaja tidak ada petunjuk penggunaan atau file bantuan, karena penggunaannya sangat mudah, tinggal memasukkan kata yang akan dicari dan tekan enter atau klik tombol cari, maka akan ditampilkan arti kata yang dimaksud jika ada.
Penampilannya sudah di format sedemikian rupa agar memudahkan pengguna membaca dan mencari definisi kata yang dimaksud. Dua kolom sebelah kiri merupakan hasil kata pencarian, dengan penjelasan :
- Kolom atas merupakan daftar kata yang merupakan kata dasar
- Kolom kedua merupakan hasil pencarian, tetapi tidak didapatkan pada kata dasar tetapi pada kata turunan atau majemuk ( di istilahkan dengan sub lema kalau tidak salah)
Bagian Kanan merupakan definisi kata yang ditampilkan dengan warna yang memberikan arti sebagai berikut :
- Warna merah dengan latar kuning adalah lema (kata dasar)
- Warna merah dengan nomor adalah banyaknya arti aatu definisi kata
- warna merah saja tanpa latar merupakan sub lema atau kata turunan
- warna biru adalah jenis kata atau termasuk dalam istilah apa
- warna hitam adalah arti aau definisi kata
- warna hijau adalah contoh penggunaan kata dalam kalimat
- warna ungu adalah contoh dalam peribahasa
- Warna hitam dengan background hijau merupakan hasil pencarian yang terdapat pada sub-lema atau kata turunan
[Update Versi 1.1 merupakan perbaikan file yang dideteksi sebagai virus oleh beberapa Antivirus (Kaspersky, AVira )]
Kamis, September 09, 2010
Minal Aidin Wal Faizin : Ucapan Idul Fitri Khas Indonesia
"Minal Aidin Wal Faizin - Mohon Maaf Lahir dan Batin", sebuah rangkai kalimat yang sering kita dengar dan ucapkan pada hari raya Idul Fitri. Ternyata ucapan "Minal Aidin Wal Faizin" yang terdengar dan berasal dari untaian kata bahasa arab hanya khas dikenal di Indonesia saja! Frase tersebut ternyata tidak dikenal dalam budaya Arab.
Apakah "Minal Aidin Wal Faizin" memiliki arti kata "Mohon Maaf Lahir dan Batin"? Qaris Tajudin dalam buku berjudul “Bahasa!” terbitan TEMPO, di halaman 177 mengungkapkan bahwa memang frasa Minal Aidin Wal Faizin “berasal dari bahasa Arab, bahasa yang banyak menyumbang istilah keagamaan di Indonesia, baik agama Islam maupun Kristen.” Qaris mengatakan bahwa selain tidak dikenal dalam budaya Arab, frasa Minal Aidin Wal Faizin juga hanya dapat dimengerti oleh orang Indonesia. Frasa ini bisa ditemui dalam kamus bahasa Indonesia, tapi tidak ditemukan dalam kamus bahasa Arab, kecuali dalam lema kata per kata.
Dalam sebuah artikel Wikimu, Agussyafii menyampaikan pendapat yang agak berbeda. Kalimat minal `a'idin adalah kependekan dari do'a Allohumma 'ij`alna minal `a'idin waj`alna minal fa'izin, artinya, Ya Alloh setelah berpuasa ini, jadikanlah kami termasuk orang yang bisa kembali (ke fitrah kami) dan sukses.
Jadi, "Minal Aidin Wal Faizin" merupakan ungkapan budaya lokal Indonesia yang diyakini sudah cukup lama berkembang di masyarakat.
Penggunaan kalimat "Minal Aidin Wal Faizin" yang lebih sesuai dengan makna yang seharusnya adalah sebagai kalimat penutup ucapan yang lebih lengkap di akhir bulan puasa: "taqabbalallahu minna wa minkum wa ja’alanallahu minal ‘aidin wal faizin" yang artinya "Semoga Allah menerima amalan-amalan yang telah saya dan anda kerjakan dan semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang kembali kepada fitrah dan orang-orang yang mendapatkan kemenangan".
Ya..! Semoga Allah menerima amal ibadah kita dan menjadikan kita sebagai mahkluk fitrah selalu berada dalam ridha dan perlindunganNya. Amin.
Dan sebagai orang Indonesia izin kan saya (dan keluarga) mengucapkan:
Apakah "Minal Aidin Wal Faizin" memiliki arti kata "Mohon Maaf Lahir dan Batin"? Qaris Tajudin dalam buku berjudul “Bahasa!” terbitan TEMPO, di halaman 177 mengungkapkan bahwa memang frasa Minal Aidin Wal Faizin “berasal dari bahasa Arab, bahasa yang banyak menyumbang istilah keagamaan di Indonesia, baik agama Islam maupun Kristen.” Qaris mengatakan bahwa selain tidak dikenal dalam budaya Arab, frasa Minal Aidin Wal Faizin juga hanya dapat dimengerti oleh orang Indonesia. Frasa ini bisa ditemui dalam kamus bahasa Indonesia, tapi tidak ditemukan dalam kamus bahasa Arab, kecuali dalam lema kata per kata.
Dalam sebuah artikel Wikimu, Agussyafii menyampaikan pendapat yang agak berbeda. Kalimat minal `a'idin adalah kependekan dari do'a Allohumma 'ij`alna minal `a'idin waj`alna minal fa'izin, artinya, Ya Alloh setelah berpuasa ini, jadikanlah kami termasuk orang yang bisa kembali (ke fitrah kami) dan sukses.
Jadi, "Minal Aidin Wal Faizin" merupakan ungkapan budaya lokal Indonesia yang diyakini sudah cukup lama berkembang di masyarakat.
Penggunaan kalimat "Minal Aidin Wal Faizin" yang lebih sesuai dengan makna yang seharusnya adalah sebagai kalimat penutup ucapan yang lebih lengkap di akhir bulan puasa: "taqabbalallahu minna wa minkum wa ja’alanallahu minal ‘aidin wal faizin" yang artinya "Semoga Allah menerima amalan-amalan yang telah saya dan anda kerjakan dan semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang kembali kepada fitrah dan orang-orang yang mendapatkan kemenangan".
Ya..! Semoga Allah menerima amal ibadah kita dan menjadikan kita sebagai mahkluk fitrah selalu berada dalam ridha dan perlindunganNya. Amin.
Dan sebagai orang Indonesia izin kan saya (dan keluarga) mengucapkan:
Selamat Idul Fitri 1431 H
Mohon Maaf Lahir dan Batin
Selasa, Juli 07, 2009
Gila! 150 orang pekerja Indonesia mengalami penyiksaan di Malaysia
Tata bahasa bisa mengelabui dan memudarkan fakta. Kelihaian sesorang dalam merangkai kata bisa mengubah persepsi seseorang dalam melihat persoalan yang tersirat dalam kalimat yang disampaikan. Ungkapan yang disampaikan oleh Wakil Menteri Dalam Negeri Malaysia Datuk Wira Abu Seman Yusop adalah salah satu contoh upaya untuk memperhalus keadaan yang tidak baik menjadi agak lebih baik.
Datuk Wira Abu Seman Yusop mengatakan bahwa "Only 0.05% of Indonesian domestic helpers are being abused by their Malaysian employers [1], [2], [3]" (hanya 0,05 persen pekerja domestik asal Indonesia yang mengalami penyiksaan oleh majikan mereka di Malaysia). Ungkapan besaran 0,05% apalagi ditambah dengan kata "hanya" di depannya tentu akan menggiring pendengar/pembaca kepada jumlah atau nilai yang sedikit dalam bayangan pikiran di kepalanya. Namun bila kita pendengar lebih cermat, tentu ia akan bertanya-tanya, berapa jumlah nyata dari 0,05% pekerja Indonesia di Malaysia? Untuk menjawabnya tentu perlu diketahui berapa julah seluruh pekerja Indonesia di Malaysia.
Maka setelah disimak lebih lanjut, Abu Seman mengatakan saat ini ada sekitar 300 ribu wanita Indonesia yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Malaysia [4]. Dari penjelasan tersebut kita bisa memperkirakan bahwa ternyata yang ada dalam 0,05% itu bisa mencapai sekitar (300.000 x 0,05%) 150 orang pekerja wanita Indonesia yang mengalami penyiksaan.
Sekarang bayangkan!
"Ada sekitar 150 orang pekerja wanita Indonesia di Malaysia yang mengalami penyiksaan di Malaysia!"
Apakah anda akan tetap mempersepsikan ini sebagai sebuah masalah kecil? Apakah anda masih bisa melihat mungkin ada 1 orang suami dan 2 orang anak yang akan terkena dampak turutan dari mereka yang disiksa (total menjadi ((1+3)x150) 600 orang yang tekena dampak)?
Masih tidak bisa melihat bahwa ini persolan besar? Lebih lanjut, kita masih bisa mempertanyakan lagi, menggunakan data dalam kurun berapa lama Wakil Menteri Dalam Negeri Malaysia bisa mengungkapkan bahwa 0,05% (150 orang) pekerja Indonesia yang mengalami penyiksaan tersebut tersebut dihitung? Jika ini diperoleh berdasakan data tahunan, bayangkan kejadian berulang selama lima tahun tanpa perubahan, artinya (150x5) 750 orang pekerja wanita Indonesia di Malaysia mungkin pernah mengalami penyiksaan.
Bagaimana Indonesia?
Datuk Wira Abu Seman Yusop mengatakan bahwa "Only 0.05% of Indonesian domestic helpers are being abused by their Malaysian employers [1], [2], [3]" (hanya 0,05 persen pekerja domestik asal Indonesia yang mengalami penyiksaan oleh majikan mereka di Malaysia). Ungkapan besaran 0,05% apalagi ditambah dengan kata "hanya" di depannya tentu akan menggiring pendengar/pembaca kepada jumlah atau nilai yang sedikit dalam bayangan pikiran di kepalanya. Namun bila kita pendengar lebih cermat, tentu ia akan bertanya-tanya, berapa jumlah nyata dari 0,05% pekerja Indonesia di Malaysia? Untuk menjawabnya tentu perlu diketahui berapa julah seluruh pekerja Indonesia di Malaysia.
Maka setelah disimak lebih lanjut, Abu Seman mengatakan saat ini ada sekitar 300 ribu wanita Indonesia yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Malaysia [4]. Dari penjelasan tersebut kita bisa memperkirakan bahwa ternyata yang ada dalam 0,05% itu bisa mencapai sekitar (300.000 x 0,05%) 150 orang pekerja wanita Indonesia yang mengalami penyiksaan.
Sekarang bayangkan!
"Ada sekitar 150 orang pekerja wanita Indonesia di Malaysia yang mengalami penyiksaan di Malaysia!"
Apakah anda akan tetap mempersepsikan ini sebagai sebuah masalah kecil? Apakah anda masih bisa melihat mungkin ada 1 orang suami dan 2 orang anak yang akan terkena dampak turutan dari mereka yang disiksa (total menjadi ((1+3)x150) 600 orang yang tekena dampak)?
Masih tidak bisa melihat bahwa ini persolan besar? Lebih lanjut, kita masih bisa mempertanyakan lagi, menggunakan data dalam kurun berapa lama Wakil Menteri Dalam Negeri Malaysia bisa mengungkapkan bahwa 0,05% (150 orang) pekerja Indonesia yang mengalami penyiksaan tersebut tersebut dihitung? Jika ini diperoleh berdasakan data tahunan, bayangkan kejadian berulang selama lima tahun tanpa perubahan, artinya (150x5) 750 orang pekerja wanita Indonesia di Malaysia mungkin pernah mengalami penyiksaan.
Bagaimana Indonesia?
Senin, Februari 18, 2008
KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) Daring
KBBI Daring ini merupakan upaya penyediaan kemudahan akses terhadap Kamus Besar Bahasa Indonesia di manapun, kapanpun, dan siapapun selama dapat memanfaatkan jaringan teknologi informasi dan komunikasi.
sumber : http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/index.php
sumber : http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/index.php
Langganan:
Postingan (Atom)






