Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Rabu, November 07, 2012

Hari Ini Soekarno-Hatta Diberi Gelar Pahlawan Nasional

Proklamator kemerdekaan Indonesia Soekarno dan Hatta akhirnya diberi gelar pahlawan nasional oleh pemerintah. Hari ini, pemerintah menganugerahi keduanya gelar pahlawan nasional menjelang peringatan Hari Pahlawan yang jatuh tiap 10 November.

"Beliau (Soekarno dan Mohammad Hatta) akan dianugerahi gelar pahlawan nasional. Keputusan presidennya ditandatangani sore ini (kemarin -pen) maka penganugerahan akan disampaikan dengan keluarga," kata Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Djoko Suyanto di Jakarta, Selasa.

Minggu, September 30, 2012

Para Pahlawan Korban G 30 S

Monumen Pahlawan Revolusi dibangun atas gagasan Presiden ke-2 Indonesia, Soeharto. Dibangun di atas tanah seluas 14,6 hektar. Monumen ini dibangun dengan tujuan mengingat perjuangan para Pahlawan Revolusi yang berjuang mempertahankan ideologi negara Republik Indonesia, Pancasila dari ancaman ideologi komunis.
Gerakan 30 September atau yang sering disingkat G 30 S PKI, G-30S/PKI, Gestapu (Gerakan September Tiga Puluh), Gestok (Gerakan Satu Oktober) adalah sebuah peristiwa yang terjadi selewat malam tanggal 30 September sampai di awal 1 Oktober 1965 di mana enam perwira tinggi militer Indonesia beserta beberapa orang lainnya dibunuh dalam suatu usaha percobaan kudeta yang kemudian dituduhkan kepada anggota Partai Komunis Indonesia.

Kejadian tersebut digambarkan pemerintah sebagai upaya kudeta. Gejolak yang timbul akibat G30S sendiri pada akhirnya berhasil diredam oleh otoritas militer Indonesia. Pemerintah Orde Baru kemudian menetapkan 30 September sebagai Hari Peringatan Gerakan 30 September G30S dan tanggal 1 Oktober ditetapkan sebagai Hari Kesaktian Pancasila.

Rabu, September 19, 2012

Rapat Raksasa di Lapangan Ikada

politik.kompasiana.com
Tanggal 19 September 1945, tercatat sebagai hari penting dan bersejarah bagi Jakarta dan Indonesia pada umumnya. Puluhan ribuan masa dari Jakarta dan sekitarnya berkumpul dalam Peristiwa yang disebut dengan rapat raksasa di Lapangan Ikada, sekarang jadi Lapangan Monas.

Penyelenggaraan rapat besar ini dipersiapkan dan dilaksanakan rakyat Jakarta dan sekitarnya yang dimotori Pemuda-Mahasiswa Jakarta  menggunakan nama panitia “Komite aksi”.

Mereka berkeinginan menyampaikan ke hadapan khalayak ramai dan dunia luar bahwa Proklamasi Kemerdekaan Indonesia oleh Soekarno-Hatta di Pegangsaan Timur 56 tanggal 17 Agustus 1945, merupakan kehendak seluruh bangsa Indonesia.
Dalam Rapat Ikada inilah khsusnya penduduk Jakarta dan sekitarnya akan membuktikan suatu legitimasi politik bahwa “Indonesia sekarang telah Merdeka” yang didukung rakyat.

Jumat, September 14, 2012

Tanjidor

Penampilan Musik Tanjidor di Kawasan Kota Tua Jakarta

Tanjidor dikenal sebagai salah satu jenis musik Betawi yang mendapat pengaruh kuat dari musik Eropa. Pada musik Tanjidor alat musik yang paling banyak dimainkan adalah alat musik tiup, seperti klarinet, piston, trombone serta terompet. Jenis musik ini muncul pada abad ke-18, yang ketika itu dimainkan untuk mengiringi perhelatan atau mengarak pengantin.

wirawandwilazuardy.blogspot.com
Kata "tanjidor" berasal dari kata dalam bahasa Portugis tangedor, yang berarti "alat-alat musik berdawai (stringed instruments)". Tetapi dalam kenyataannya, nama Tanjidor tidak sesuai lagi dengan istilah asli dari Portugis itu. Namun yang masih sama adalah sistem musik (tonesystem) dari tangedor, yakni sistem diatonik atau dua belas nada berjarak sama rata (twelve equally spaced tones). Ansambel Tanjidor terdiri dari alat-alat musik seperti berikut: klarinet (tiup), piston (tiup), trombon (tiup), saksofon tenor (tiup), saksofon bas (tiup), drum (membranofon), simbal (perkusi), dan side drums (tambur).

Selasa, Juni 12, 2012

Menikmati Pemandangan Kawasan Bundaran HI dari Ketinggian


Jakarta View from Grand Indonesia in Indonesia

Jika kita datang ke jantung kota Jakarta, kita mungkin akan melihat sambutan sepasang remaja dengan lambaian tangannya, mereka berdiri tegak di tengah-tengah kolam air yang terletak kawasan Hotel Indonesia Jakarta Pusat.  Dua remaja yang berada di tengah-tengah kolam air ini adalah tugu selamat datang yang dibangun di kota Jakarta pada 17 Agustus 1961 dan diresmikan pada tahun 1962.

Tinggi patung perunggu ini dari kepala sampai kaki 5 m, sedangkan tinggi seluruhnya dari kaki hingga tangan yang melambai adalah 7 m, terletak pada dua pilar beton 30 meter, berada di sumbu raksasa lingkaran kolam berdiameter 100 meter. Patung tersebut menghadap ke utara yang berarti mereka menyambut orang-orang yang datang dari arah Monumen Nasional.

Minggu, Oktober 09, 2011

Stasiun Beos

Pintu masuk Stasiun Jakarta Kota (id.wikipedia.org)
Stasiun Kereta Api Jakarta Kota, atau yang dikenal pula sebagai Stasiun Beos adalah stasiun kereta api berusia tua yang berada dalam kawasan di Kota Tua Jakarta.

Stasiun ini adalah satu dari sedikit stasiun di Indonesia yang bertipe terminus (perjalanan akhir, yang tidak memiliki kelanjutan jalur).

Stasiun tua yang bersejarah ini sudah ditetapkan sebagai cagar budaya melalui Surat Keputusan Gubernur Provinsi DKI Jakarta No. 475 tahun 1993.

Mungkin hanya sedikit warga Jakarta yang tahu apa arti Beos, dan menurut artikel dalam wikipedia ada beberapa versi dalam mengartikan nama Beos.

Stasiun Kota (1929).
Foto koleksi Tropenmuseum,
Amsterdam. (id.wikipedia.org)
Yang pertama, Beos kependekan dari Bataviasche Ooster Spoorweg Maatschapij (Maskapai Angkutan Kereta Api Batavia Timur), sebuah perusahaan swasta yang menghubungkan Batavia dengan Kedunggedeh. Versi lain, Beos berasal dari kata Batavia En Omstreken, yang artinya Batavia dan Sekitarnya, dimana berasal dari fungsi stasiun sebagai pusat transportasi kereta api yang menghubungkan Kota Batavia dengan kota lain seperti Bekassie (Bekasi), Buitenzorg (Bogor), Parijs van Java (Bandung), Karavam (Karawang), dan lain-lain.

Sebenarnya, masih ada nama lain untuk Stasiun Jakarta Kota ini yakni Batavia Zuid yang berarti Stasiun Batavia Selatan. Nama ini muncul karena pada akhir abad ke-19, Batavia sudah memiliki lebih dari dua stasiun kereta api. Satunya adalah Batavia Noord (Batavia Utara) yang terletak di sebelah selatan Museum Sejarah Jakarta sekarang. Batavia Noord pada awalnya merupakan milik perusahaan kereta api Nederlandsch-Indische Spoorweg, dan merupakan terminus untuk jalur Batavia-Buitenzorg. Pada tahun 1913 jalur Batavia-Buitenzorg ini dijual kepada pemerintah Hindia Belanda dan dikelola oleh Staatsspoorwegen. Pada waktu itu kawasan Jatinegara dan Tanjung Priok belum termasuk gemeente Batavia. Stasiun Kota (1929).

Batavia Zuid, awalnya dibangun sekitar tahun 1870, kemudian ditutup pada tahun 1926 untuk renovasi menjadi bangunan yang kini ada. Selama stasiun ini dibangun, kereta api-kereta api menggunakan stasiun Batavia Noord. Sekitar 200 m dari stasiun yang ditutup ini dibangunlah Stasiun Jakarta Kota yang sekarang. Pembangunannya selesai pada 19 Agustus 1929 dan secara resmi digunakan pada 8 Oktober 1929. Acara peresmiannya dilakukan secara besar-besaran dengan penanaman kepala kerbau oleh Gubernur Jendral jhr. A.C.D. de Graeff yang berkuasa pada Hindia Belanda pada 1926-1931.

Di balik kemegahan stasiun ini, tersebutlah nama seorang arsitek Belanda kelahiran Tulungagung 8 September 1882 yaitu Frans Johan Louwrens Ghijsels, lelaki yang menamatkan pendidikan arsitekturnya di Delft dan mendirikan biro arsitektur Algemeen Ingenieur Architectenbureau (AIA). Stasiun Beos merupakan karya besar Ghijsels, yang dikenal dengan ungkapan Het Indische Bouwen yakni perpaduan antara struktur dan teknik modern barat dipadu dengan bentuk-bentuk tradisional setempat. Dengan balutan art deco yang kental, rancangan Ghijsels ini terkesan sederhana meski bercita rasa tinggi. Sesuai dengan filosofi Yunani Kuno, kesederhanaan adalah jalan terpendek menuju kecantikan.

Minggu, April 10, 2011

Short Trip to Sumatera Barat

Secara tidak diduga, beberapa waktu lalu saya mendapat ajakan untuk mengunjungi Sumatera Barat (Padang). Dengan senang menerima ajakan tersebut, apalagi saya memang tadinya belum pernah menginjakan kaki ke daerah Sumatera Barat.

Memang hanya sebuah kunjungan singkat dan tidak semua tempat wisata dikunjungi, meskipun demikian saya sangat berterimakasih atas ajakan dan kesempatan yang telah diberikan.

Jujur saya katakan bahwa saya begitu terkesan dengan keindahan alam Sumatera Barat. Dan rasanya sangat layak untuk saya berbagi cerita akan keindahan daerah yang berada di bagian barat Nusantara ini, tentunya dengan bantuan berbagai sumber dari internet karena saya sendiri tidak cukup pandai untuk bercerita, apalagi hanya dengan pengetahuan dari sebuah kunjungan singkat.

Lembah Anai
Lembah Anai

Lembah Anai merupakan tempat wisata pertama yang saya kunjungi di Sumatera Barat. Keindahan alam yang dapat disaksikan di sini adalah air terjun yang terletak di bagian barat Cagar Alam Lembah Anai yang dikenal dengan nama Air Terjun Lembah Anai.

Sayangnya karena ketidak tahuan, saya hanya mengunjungi air terjun yang berada dipinggir jalan raya. Padahal setelah membaca sebuah artikel di www.wisatamelayu.com masih ada dua air terjun lainnya yang tertutup oleh lebatnya hutan, sehingga belum banyak dikenal oleh masyarakat luas. Untuk menyaksikan dua air terjun tersebut dapat ditempuh dengan perjalanan sekitar 15 menit dari lokasi Air Terjun Lembah Anai. Keindahan panorama telaga juga dapat disaksikannya dengan menempuh perjalanan sekitar 15 menit dari tepi jalan raya.

Minggu, November 21, 2010

Gebyar Taman Fatahillah 2010

Gebyar Taman Fatahillah 2010 telah dibuka sejak, 20 Nopember 2010 hingga 12 Desember 2010. Beragam festival dan pergelaran seni mengenang Jakarta tempo dulu digelar.

Diresmikan oleh Kepala Dinas Pariwisata DKI Jakarta Arie Budiman, acara ini dibuka dengan suara nyaring petasan khas Betawi, disambung dengan sajian tarian khas Betawi dan Barongsai.

Para pengunjung di halaman Museum Fatahillah dihibur dengan penampilan wayang potehi atau wayang tradisional China. Juga, alunan keroncong Tugu nan mahsyur menghibur para pengunjung dengan lagu-lagu khas Betawi, seperti Jali-jali, Hujan Gerimis dan Nonton Bioskop.

Suasana tempo doeloe semakin terasa dengan stan-stan reprentasi Kampung seperti Kampung Tugu dan Kampung Betawi. Di halaman museum, juga terpampang beragam iklan dari jaman dulu.

Seperti iklan kain tenun merek "Gotong Rojong, Tenunan Indonesia Asli, iklan sandal wanita, "Sandal Keng - Kelom Geulis, pilihan Wanita", atau poster film yang dibintangi mendiang Presiden Amerika Ronald Reagan La Terre des Revoltes yang dibintangi Errol Flynn dan Olivia DeHavilland, Raymond Massey, Ronald Reagan, Alan Hale, yang diproduksi Warner Bros.

Gebyar Taman Fatahillah 2010 adalah rangkaian acara yang diselenggarakan oleh Museum Sejarah Jakarta, Museum Wayang, Museum Senirupa dan Keramik, Balai Konservasi, dan UPT Kota tua.

Rangkaian Kegiatan Gebyar Taman Fatahillah :
  1. Festival Tempodoeloe
  2. Festival Wayang
  3. Peringatan 300 Tahun Gedung Museum Sejarah Jakarta
  4. Pekan Seni Rupa dan Keramik
  5. Save Our Heritage
  6. Pagelaran Fatahillah
Sumber: Kompas ; www.jakarta.go.id

Sabtu, September 25, 2010

Wilujeng Tepang Taun, Bandung !

Sebelum adanya jalur Pos Anyer – Panarukan, pusat kota Bandung terletak di tepi Sungai Citarum, sekarang sekitar Dayeuh Kolot. Pada saat pembuatan jalur pos ini, Deandels memerintahkan agar jarak setiap pos yang dilalui jalur tersebut maksimal 60 km, dengan catatan terdapat 4 sub-pos. Pada tiap pos/sub-pos tersebut biasanya dilakukan pergantian kuda penarik kereta pos.Tetapi pada saat pembuatan jalur melalui daerah Bandung, posisi pusat kota dan jalur pos melenceng sekitar 11 km, maka dari itu Deandels memerintahkan bupati Bandung saat itu, RA Wiranatakusumah II atau yang lebih dikenal dengan Dalem Kaum, untuk memindahkan pusat kota ke dekat jalur yang akan dibuat.

Nah, pak Bupati pun langsung mencari daerah yang cocok untuk pusat kota baru tersebut. Hal ini sulit dilaksanakan, pertama karena pada jaman baheula kota Bandung masih merupakan rawa-rawa (bekas danau purba Situ Hyang), kedua untuk mencari daerah baru itu harus berpedoman kepada sebuah primbon tata letak, semacam feng sui-lah.

Tempat yang dijadikan Pusat kota baru tersebut adalah kampung Cikalintu, dilembah sungai Cikapundung, sekarang daerah tersebut dinamakan Cipaganti (pengganti tempat lama). Tempat pertama pak Bupati mendirikan rumah beliau sekarang menjadi Mesjid Cipaganti.

Akan tetapi setelah melapor ke Deandels, ternyata Deandels tidak setuju pada daerah tersebut. Kemudian dicari lagi, ketemu dengan daerah yang namanya Kampung Pangumbahan, masih di lembah Cikapundung. Kenapa dinamakan kampung Pangumbahan, karena dulu tempat itu terkenal dengan tukang cuci-nya yang mencuci di sungai Cikapundung. Sekarang tempat itu berubah nama menjadi Kebon Kawung. Ternyata tempat itu juga tidak sesuai dengan keinginan Deandels. Pak Bupati, pun mencari tempat yang lain lagi, dan sampailah ke tempat yang sekarang menjadi Alun-alun Bandung. (menurut FengSui-nya tatar Pasundan daerah tsb memenuhi syarat sebagai tempat yang dinamakan Galudra Ngoeploek. Tanggal 25 September 1810 diresmikanlah kota baru Bandung di situ. Sedangkan pusat yang lama terkenal dengan nama Dayeuh Kolot (Dayeuh : Kota, Kolot : Tua).

Pada perkembangannya, ditahun 1896 sebagian dari Bandung dan Cimahi dijadikan pusat Militer Belanda di pulau Jawa, maka jangan heran kalau jalan-jalan ke Bandung dan Cimahi akan mendapatkan banyak bangunan militer peninggalan Belanda.

Pada tahun 1 April 1906, Bandung memperoleh status sebagai GEMEENTE (kota praja). Nah mulai tanggal inilah kota Bandung menjadi primadona di Nusantara. Pada saat itu ada sebuah perkumpulan yang namanya Bandong Vooruit. Perkumpulan inilah yang gencar menata Bandung sehingga Bandung mendapat julukan Parisj Van Java. Hasil jerih payah perkumpulan ini masih banyak tersebar di kota Bandung dan sekitarnya. Misalnya sebagian Jubileum Park (Tamansari) sekarang Bonbin, dulu taman ini memanjang dari jalan Siliwangi sampai Unisba sekarang. Ijzerman Park (Taman Ganeca), Insulide Park (Taman Nusantara/Taman Lalu Lintas sekarang), Oranje Plein (Taman Pramuka), Malooks Park (Taman Maluku), Tjitaroem Plein (Taman Citarum, sekarang mesjid Istiqomah), Taman Cibeunying Utara dan Selatan (sekarang jadi tempat penjualan tanaman hias). Di luar kota Bandung terdapat Dago Pakar, Maribaya dan kawan-kawannya.

Tahun 1920, merupakan masa keemasan Bandung, pertumbuhan ekonomi sangat pesat meskipun tidak semua orang menikmatinya (terutama pribumi). Sampai tahun 1940-an sebelum Jepang masuk ke Indonesia, jaman di Bandung terkenal dengan `jaman normal’ ada yang menyebutnya dengan jaman `tai kotok dilebuan‘ (tai ayam ditaburi abu). Pada tahun 1920 wilayah kota Bandung meliputi lapangan terbang Andir di sebelah Barat, Pabrik Kina di sebelah Utara, Oranje Plein di sebelah Timur, dan Lapangan Tegallega di Selatan.

Tanggal 1 April diperingati sebagai hari jadi Kodya Bandung, karena pada tanggal tsb tahun 1906 Bandung memperoleh status sebagai Gemeente (kotapraja/kotamadya).

Pada awal tahun 1997 diadakan sebuah seminar yang keputusannya mengganti peringatan hari jadi Kodya Bandung menjadi tanggal 25 September.

Selamat Ulang Tahun Bandung

Please enjoy! Bandung time tavel by waching these video below










These videos are coutesy of mybandoeng at YouTube. The last (4th) video is a silent movie depicting a fragment of life in the city in the early 20th century, courtesy of allbandung.com at YouTube.

Jumat, Agustus 27, 2010

Sejarah "Voetbal" di Batavia

Apa sih voetbal? Ternyata voetbal adalah permainan olah raga yang sangat diganrungi di Negeri ini. Ya! Voetbal adalah sepak bola. Sebagai permainan oleh raga yang paling banyak digemari, tidak ada salah kita mengenal lebih dalam sejarah voetbal atau sepak bola di Batavia atau Jakarta. Berikut ini adalah sejarah "Voetbal" di Batavia yang dikutip (dengan sedikit editan) dari Kompas.

Di akhir tahun 1920, pertandingan voetbal atau sepak bola sering kali digelar untuk meramaikan pasar malam. Pertandingan dilaksanakan sore hari.

Lapangan Singa (Lapangan Banteng) menjadi saksi di mana orang Belanda sering menggelar pertandingan panca lomba (vijfkam) dan tienkam (dasa lomba). Khusus untuk sepak bola, serdadu di tangsi-tangsi militer paling doyan bertanding. Mereka kemudian membentuk bond sepak bola atau perkumpulan sepak bola. Dari bond-bond itulah kemudian terbentuk satu klub besar. Tak hanya serdadu militer, tapi juga warga Belanda, Eropa, dan Indo membuat bond-bond serupa.

Dari bond-bond itu kemudian terbentuklah Nederlandsch Indische Voetbal Bond (NIVB) yang pada tahun 1927 berubah menjadi Nederlandsch Indische Voetbal Unie (NIVU). Sampai tahun 1929, NIVU sering mengadakan pertandingan termasuk dalam rangka memeriahkan pasar malam dan tak ketinggalan sebagai ajang judi. Demikian Zeffry Alkatiri berkisah dalam Pasar Gambir, Komik Cina dan Es Shanghai.

Bond China menggunakan nama antara lain Tiong un Tong, Donar, dan UMS. Adapun bond pribumi biasanya mengambil nama wilayahnya, seperti Cahaya Kwitang, Sinar Kernolong, atau Si Sawo Mateng.

Zeffry menyebutkan, pada 1928 dibentuk Voetbalbond Indonesia Jacatra (VIJ) sebagai akibat dari diskriminasi yang dilakukan NIVB. Sebelumnya bahkan sudah dibentuk Persatuan Sepak Bola Djakarta (Persidja) pada 1925. Pada 19 April 1930, Persidja ikut membentuk Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) di gedung Soceiteit Hande Projo, Yogyakarta. Pada saat itu Persidja menggunakan lapangan di Jalan Biak, Roxy, Jakpus.

Memasuki tahun 1930-an, pamor bintang lapangan Bond NIVB, G Rehatta dan de Wolf, mulai menemui senja berganti bintang lapangan bond China dan pribumi, seperti Maladi, Sumadi, dan Ernst Mangindaan. Pada 1933, VIJ keluar sebagai juara pada kejuaraan PSSI ke-3.

Pada masa Jepang, semua bond sepak bola dipaksa masuk Tai Iku Koi bentukan pemerintahan militer Jepang. Di masa ini, Taiso, sejenis senam, menggantikan olahraga permainan. Baru setelah kemerdekaan, olahraga permainan kembali semarak.

Pengaruh Belanda dalam dunia sepak bola di Indonesia adalah adanya istilah henbal, trekbal (bola kembali), kopbal (sundul bola), losbal (lepas bola), dan tendangan 12 pas. Sementara itu, hingga 1950 masih terdapat pemain indo di beberapa klub Jakarta. Sebut saja Vander Vin di klub UMS; Van den Berg, Hercules, Niezen, dan Pesch dari klub BBSA. Pemain indo mulai luntur di tahun 1960-an.

Selasa, Agustus 17, 2010

Sambut saya di bawah. Kalau tidak, saya tidak akan datang

Adalah kebiasaan John F. Kennedy (Presiden AS ke-35 (1961-1963)), menerima tamu-tamu negara di lantai atas Gedung Putih. Tapi protokol itu tidak berlaku bagi Sukarno, Presiden Republik Indonesia ke-1. Dan itu dinyatakan langsung kepada protokol Gedung Putih, “Kennedy mesti turun. Sambut saya di bawah. Kalau tidak, saya tidak akan datang.”

Entah bagaimana si petugas protokol itu menyampaikannya kepada Kennedy. Tetapi yang jelas, ketika Bung Karno datang ke Gedung Putih (26 April 1961), Kennedy turun ke ke lantai bawah, dan menyambutnya dengan ramah. Setelah ritual pertemuan dua kepala negara sekadarnya, barulah keduanya bersama-sama menaiki tangga ke atas, diiringi para staf kedua petinggi negara tadi.

Bukan hanya itu. Bung Karno bahkan diberi kesempatan berpidato di Gabungan Kongres dan Senat Amerika Serikat. Ini sangat jarang terjadi, Kepala Negara disambut di Amerika Serikat dengan Sidang Gabungan Kongres dan Senat.


sumber: "Tuan Punya Bom Atom, tapi Saya Punya Seni" google search

Kamis, Mei 13, 2010

Ternyata Asal Mula Soft Drinks Adalah Untuk Membunuh Tikus

Anda terkejut mengetahui bahwa soft drinks (minuman berkarbonasi) dapat digunakan untuk membunuh tikus? Hal ini disebabkan karena tikus tidak dapat bersendawa. Ketika tikus minum soft drinks, mereka tidak akan mampu bersendawa sehingga mati.

Berikut ini sejarah pendek penemuan soft drinks hingga menjadi komersil yang diperoleh dari Wikipedia:

In 1767 Englishman Joseph Priestley invented carbonated water when he first discovered a method of infusing water with carbon dioxide when he suspended a bowl of water above a beer vat at a local brewery in Leeds, England. The air blanketing the fermenting beer—called 'fixed air'—was known to kill mice suspended in it. Priestley found water thus treated had a pleasant taste and he offered it to friends as a cool, refreshing drink. In 1772 Priestley published a paper entitled Impregnating Water with Fixed Air in which he describes dripping oil of vitriol (sulfuric acid) onto chalk to produce carbon dioxide gas, and encouraging the gas to dissolve into an agitated bowl of water.

In 1771 Swedish chemistry professor Torbern Bergman independently invented a similar process to make carbonated water. In poor health at the time yet frugal, he was trying to reproduce naturally-effervescent spring waters thought at the time to be beneficial to health.

Ányos Jedlik (1800-1895), a Hungarian, invented consumable soda-water that continues to be a popular drink today. He also built the world's first carbonated water factory in Budapest, Hungary. After this invention, a Hungarian drink made of wine and soda water called "fröccs" (wine spritzers) was spread throughout several countries in Europe.

Since then, carbonated water is made by passing pressurized carbon dioxide through water. The pressure increases the solubility and allows more carbon dioxide to dissolve than would be possible under standard atmospheric pressure. When the bottle is opened, the pressure is released, allowing the gas to come out of the solution, thus forming the characteristic bubbles.

In the United States, carbonated water was commonly known by the name of soda water until World War II. During the Great Depression, it was also referred to as two cents plain, a reference to its place as the cheapest drink available at the soda fountain. In the 1950s new terms such as sparkling water and seltzer water began to be used. The term seltzer water is a genericized trademark that derives from the German town Selters, meaning "water from Selters."  where naturally carbonated water has been commercially bottled and shipped into all parts of the world at least since the 18th century.

Flavored carbonated water is also commercially available. It differs from sodas in that it contains flavors (usually sour fruit flavors such as lemon, lime, cherry, orange, or raspberry) but no sweetener.

Bila anda ingin mencoba membunuh tikus dengan soft drinks, anda dapat ikuti langkah-langkah berikut ini:
  1. Tuang soft drinks (Pepsi atau Coca cola) ke dalam piring. piring sekali pakai adalah yang terbaik. Anda tidak akan ingin menggunakan kembali wadah untuk apa pun nanti, karena tikus dapat membawa berbagai jenis penyakit.
  2. Tempat piring tersebut dekat tempat tikus masuk / keluar rumah. Carilah kotoran mereka jika Anda belum melihat tikus dan tikus yang masuk atau keluar dari tangan pertama.
  3. Tikus akan meminum soft drinks dan kemudian, ketika mereka tidak bisa bersendawa, mereka akan mati.
Ya, ini mungkin terdengar kejam, namun membuat jebakan, lem tikus, serta racun tikus juga tidak ada yang terdengar sebagai cara yang bersahabat bagi tikus. Ingat, soft drinks tentu lebih aman dari racun yang dapat membahayakan anak-anak dan hewan peliharaan

Tips tambahan:
  • Tikus paling aktif pada malam hari.
  • Minuman berkarbonasi tidak dapat bertahan begitu lama, anda akan perlu mengantinya. Bila masih diperlukan, tempatkan soft drinks baru setiap malam.

Rabu, April 21, 2010

Raden Adjeng Kartini

Raden Adjeng Kartini atau sebenarnya lebih tepat disebut Raden Ayu Kartini, (lahir di Jepara, Jawa Tengah, 21 April 1879 – meninggal di Rembang, Jawa Tengah, 17 September 1904 pada umur 25 tahun) adalah seorang tokoh Jawa dan Pahlawan Nasional Indonesia. Kartini dikenal sebagai pelopor kebangkitan perempuan pribumi.

Raden Adjeng Kartini adalah seseorang dari kalangan priyayi atau kelas bangsawan Jawa, putri Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, bupati Jepara. Ia adalah putri dari istri pertama, tetapi bukan istri utama. Ibunya bernama M.A. Ngasirah, putri dari Nyai Haji Siti Aminah dan Kyai Haji Madirono, seorang guru agama di Telukawur, Jepara.

Ayah Kartini pada mulanya adalah seorang wedana di Mayong. Peraturan kolonial waktu itu mengharuskan seorang bupati beristerikan seorang bangsawan. Karena M.A. Ngasirah bukanlah bangsawan tinggi, maka ayahnya menikah lagi dengan Raden Adjeng Woerjan (Moerjam), keturunan langsung Raja Madura. Setelah perkawinan itu, maka ayah Kartini diangkat menjadi bupati di Jepara menggantikan kedudukan ayah kandung R.A. Woerjan, R.A.A. Tjitrowikromo.

Kartini adalah anak ke-5 dari 11 bersaudara kandung dan tiri. Dari kesemua saudara sekandung, Kartini adalah anak perempuan tertua. Kakeknya, Pangeran Ario Tjondronegoro IV, diangkat bupati dalam usia 25 tahun. Kakak Kartini, Sosrokartono, adalah seorang yang pintar dalam bidang bahasa. Sampai usia 12 tahun, Kartini diperbolehkan bersekolah di ELS (Europese Lagere School). Di sini antara lain Kartini belajar bahasa Belanda. Tetapi setelah usia 12 tahun, ia harus tinggal di rumah karena sudah bisa dipingit.

Karena Kartini bisa berbahasa Belanda, maka di rumah ia mulai belajar sendiri dan menulis surat kepada teman-teman korespondensi yang berasal dari Belanda. Salah satunya adalah Rosa Abendanon yang banyak mendukungnya. Dari buku-buku, koran, dan majalah Eropa, Kartini tertarik pada kemajuan berpikir perempuan Eropa. Timbul keinginannya untuk memajukan perempuan pribumi, karena ia melihat bahwa perempuan pribumi berada pada status sosial yang rendah.

Kartini banyak membaca surat kabar Semarang De Locomotief yang diasuh Pieter Brooshooft, ia juga menerima leestrommel (paket majalah yang diedarkan toko buku kepada langganan). Di antaranya terdapat majalah kebudayaan dan ilmu pengetahuan yang cukup berat, juga ada majalah wanita Belanda De Hollandsche Lelie. Kartini pun kemudian beberapa kali mengirimkan tulisannya dan dimuat di De Hollandsche Lelie. Dari surat-suratnya tampak Kartini membaca apa saja dengan penuh perhatian, sambil membuat catatan-catatan. Kadang-kadang Kartini menyebut salah satu karangan atau mengutip beberapa kalimat. Perhatiannya tidak hanya semata-mata soal emansipasi wanita, tapi juga masalah sosial umum. Kartini melihat perjuangan wanita agar memperoleh kebebasan, otonomi dan persamaan hukum sebagai bagian dari gerakan yang lebih luas. Di antara buku yang dibaca Kartini sebelum berumur 20, terdapat judul Max Havelaar dan Surat-Surat Cinta karya Multatuli, yang pada November 1901 sudah dibacanya dua kali. Lalu De Stille Kraacht (Kekuatan Gaib) karya Louis Coperus. Kemudian karya Van Eeden yang bermutu tinggi, karya Augusta de Witt yang sedang-sedang saja, roman-feminis karya Nyonya Goekoop de-Jong Van Beek dan sebuah roman anti-perang karangan Berta Von Suttner, Die Waffen Nieder (Letakkan Senjata). Semuanya berbahasa Belanda.

Oleh orangtuanya, Kartini disuruh menikah dengan bupati Rembang, K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, yang sudah pernah memiliki tiga istri. Kartini menikah pada tanggal 12 November 1903. Suaminya mengerti keinginan Kartini dan Kartini diberi kebebasan dan didukung mendirikan sekolah wanita di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor kabupaten Rembang, atau di sebuah bangunan yang kini digunakan sebagai Gedung Pramuka. Anak pertama dan sekaligus terakhirnya, RM Soesalit, lahir pada tanggal 13 September 1904. Beberapa hari kemudian, 17 September 1904, Kartini meninggal pada usia 25 tahun. Kartini dimakamkan di Desa Bulu, Kecamatan Bulu, Rembang.

Berkat kegigihannya Kartini, kemudian didirikan Sekolah Wanita oleh Yayasan Kartini di Semarang pada 1912, dan kemudian di Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon dan daerah lainnya. Nama sekolah tersebut adalah "Sekolah Kartini". Yayasan Kartini ini didirikan oleh keluarga Van Deventer, seorang tokoh Politik Etis.

Presiden Soekarno mengeluarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No.108 Tahun 1964, tanggal 2 Mei 1964, yang menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional sekaligus menetapkan hari lahir Kartini, tanggal 21 April, untuk diperingati setiap tahun sebagai hari besar yang kemudian dikenal sebagai Hari Kartini.

Senin, April 19, 2010

Ondel-ondel

Ondel-ondel adalah bentuk pertunjukan rakyat Betawi yang sering ditampilkan dalam pesta-pesta rakyat. Nampaknya ondel-ondel memerankan leluhur atau nenek moyang yang senantiasa menjaga anak cucunya atau penduduk suatu desa.

Ondel-ondel yang berupa boneka besar itu tingginya sekitar ± 2,5 m dengan garis tengah ± 80 cm, dibuat dari anyaman bambu yang disiapkan begitu rupa sehingga mudah dipikul dari dalarnnya. Bagian wajah berupa topeng atau kedok, dengan rambut kepala dibuat dari ijuk. Biasanya wajah ondel-ondel laki-laki di cat dengan warna merah, sedang yang perempuan dicat dengan warna putih, namun dalam banyak pertunjukan yang menghadirkan ondel-ondel saat ini warna dibuat lebih bervariasi.

Bentuk pertunjukan ondel-ondel banyak persamaannya dengan yang terdapat di beberapa daerah lain. Di Pasundan dikenal dengan sebutan Badawang, di Jawa Tengah disebut Barongan Buncis, sedangkan di Bali lebih dikenal dengan nama Barong Landung. Menurut perkiraan jenis pertunjukan itu sudah ada sejak sebelum tersebarnya agama Islam di Pulau Jawa.

Semula ondel-ondel berfungsi sebagai penolak bala atau gangguan roh halus yang gentayangan. Dewasa ini ondel-ondel biasanya digunakan untuk menambah semarak pesta- pesta rakyat atau untuk penyambutan tamu terhormat, misainya pada peresmian gedung yang baru selesai dibangun.

Musik pengiring ondel-ondel tidak tertentu. Ada yang diiringi Tanjidor, seperti rombongan ondel-ondel pimpinan Gejen, kampung Setu. Ada yang diiringi gendang pencak Betawi seperti rombongan “Beringin Sakti” pimpinan Duloh (alm), sekarang pimpinan Yasin, dari Rawasari. Adapula yang diiringi Bende, “Kemes”, Ningnong dan Rebana Ketimpring, seperti rombongan ondel-ondel pimpinan Lamoh, kalideres.

sumber : id.wikipedia.org ; www.tamanismailmarzuki.com

Link:
* Tanjidor
* Wisata Kota Tua Jakarta 
* Palang Pintu (Adat Betawi) Menyambut Pengantin Laki-Laki 

Jumat, April 16, 2010

Kisah Singkat Trem di Jakarta

Trem merupakan kendaraan yang paling banyak dimanfaatkan oleh masyarakat. Alat transportasi bernama trem mulai diperkenalkan di Batavia pada 1869. Trem pada masa itu ditarik oleh kuda. Meski "mesin penggeraknya" kuda, tapi jarak tempuhnya lumayan panjang, dari Kwitang ke Pasar Ikan. Lambat laun posisi trem kuda digantikan dengan trem bermesin uap pada 1881. Ketel uap yang ditempatkan dalam kaleng besar menjalankan lokomotif trem. Hingga tanggal 10 April 1899 trem listrik mulai beroperasi di Jakarta.

Karena menggunakan uap maka jarak tempuh trem ini lebih jauh, dari Pasar Ikan ke Gajah Mada hingga Harmoni, berlanjut ke Kramat melalui Pasar Baru dan lapangan Banteng, kemudian ke Meester Cornelis (Jatinegara) melewati Salemba dan Matraman.

Sekitar 20 tahun kemudian atau tahun 1901 trem listrik mulai diperkenalkan. Meski demikian, trem upa tetap beroperasi. Trem uap akhirnya berhenti beroperasi pada 1933 karena semua trem sudah menggunakan listrik.

Trem listrik berakhir pada tahun 1960 di masa Wali Kota Sudiro. Ketika trem hendak digusur, Sudiro memohon pada Presiden Soekarno agar jaringan trem dari Jatinegara - Senen tetap dipertahankan. Tapi Bung Karno, Presiden RI pertama, menolak dan menganggap trem tidak cocok untuk kota semacam Jakarta. Dia lebih setuju dibangun metro atau kereta api bawah tanah.

Pada tahun 2005 pernah ada rencana untuk mengoperasikan lagi trem di Jakarta, lokasinya hanya terbatas di kota tua dengan tujuan untuk menghadirkan kembali wajah Jakarta tempo dulu. Namun demikian hingga kini masih belum terealisasi.


sumber : www.kaskus.us ; www.detiknews.com ; forum.detik.com ; kotretanharian.blogspot.com ; foto.vivanews.com ; terselubung.blogspot.com

Selasa, April 13, 2010

Wisata Kota Tua Jakarta


Bosan model wisata itu-itu saja! Sekali-sekali cobalah wisata heritage menjelajah kawasan Kota Tua, di Jakarta Barat.

Sejarah kota Jakarta diperkirakan dimulai sekitar 3500 SM, diawali dengan terbentuknya pemukiman sejarah di sepanjang daerah aliran sungai Ciliwung. Seiring dengan perjalanan sejarah, maka berbagai kampung tumbuh di sepanjang aliran sungai itu. Kampung-kampung ini ada yang bertahan sampai sekarang yang di sebut Kampung Tua. Diantaranya adalah Kampung Bandan, Kampung Orang Cina (Pecinan), Kampung Luar Batang, Kampung Pekojan, Kampung Angke, Kampung Kebon Jeruk dan masih banyak lagi.

Kampung-kampung ini telah banyak mengalami perubahan karena termakan waktu, kendati letak dan sisanya masih bisa disaksikan di era pembangunan. Keberadaan kampung tua dan bangunan-bangunan bersejarah yang terletak di kampung-kampung tersebut justru merupakan kelebihan yang dimiliki kota Jakarta.

Wisata Kota Tua dapat menjadi pilihan untuk melepas penat kita bisa sekaligus belajar sejarah

Di kawasan Kota Tua yang terletak tidak jauh dari Stasiun Kereta Api Kota ini, kita bisa menikmati sederet bangunan-bangunan tua peninggalan zaman pemerintahan Belanda. Bangunannya semua masih asli meskipun sebagian sudah tampak tidak terawat. Namun semuanya masih tetap menarik untuk "cuci mata"

Selain menikmati deretan bangunan-bangunan tua, jangan lewatkan berkunjung ke Museum Sejarah Jakarta yang biasa disebut Museum Fatahillah. Di tempat ini kita bisa belajar sejarah Jakarta.

Ada juga beberapa tempat yang tidak kalah menarik dikunjungi seperti Museum Wayang, Museum Seni Rupa, dan Museum Bahari.

Bagi yang hobi fotografi dan berpose, kawasan Kota Tua tempat yang cukup menarik. Ada banyak latar dan objek yang menarik untuk difoto.

Untuk menjelajahi Kota Tua ini kita bisa berjalan kaki saja. Tapi kalau mau sedikit nyaman ada baiknya menaiki sepeda. Tak usah repot, cukup sewa saja sepeda onthel untuk menemani kita berkeliling.

Selamat Mencoba!

Old Style Bicycle Rental (jepret-jakarta.blogspot.com)

sumber : kotatua.blogspot.com ; www.detiknews.com ; en.wikipedia.org (foto)
Link: Wisata Setu Babakan, Kampung Betawi Selatan Jakarta

Monumen Nasional

Monumen Nasional atau yang populer disingkat dengan Monas atau Tugu Monas adalah salah satu dari monumen peringatan yang didirikan untuk mengenang perlawanan dan perjuangan rakyat Indonesia melawan penjajah Belanda. Monas juga dikenal sebagai icon bagi kota Jakarta maupun negara Indonesia.

Lapangan Monas mengalami lima kali penggantian nama yaitu Lapangan Gambir, Lapangan Ikada, Lapangan Merdeka, Lapangan Monas, dan Taman Monas. Di sekeliling tugu terdapat taman, dua buah kolam dan beberapa lapangan terbuka tempat berolahraga.

Tugu yang dibangun di areal seluas 80 hektar ini diarsiteki oleh Friedrich Silaban dan R. M. Soedarsono, mulai dibangun 17 Agustus 1961, dan diresmikan 12 Juli 1975 oleh Presiden Republik Indonesia Soeharto.

Pembangunan tugu Monas bertujuan mengenang dan melestarikan perjuangan bangsa Indonesia pada masa revolusi kemerdekaan 1945, agar terbangkitnya inspirasi dan semangat patriotisme generasi saat ini dan mendatang.

Tugu Monas yang menjulang tinggi dan melambangkan lingga (alu atau anatan) yang penuh dimensi khas budaya bangsa Indonesia. Semua pelataran cawan melambangkan Yoni (lumbung).

Bentuk Tugu peringatan yang satu ini sangat unik. Sebuah batu obeliks yang terbuat dari marmer yang berbentuk lingga yoni simbol kesuburan ini tingginya 132 meter.

Di puncak Monumen Nasional terdapat cawan yang menopang berbentuk nyala obor perunggu yang beratnya mencapai 14,5 ton dan dilapisi emas 35 Kilogram. Lidah api atau obor ini sebagai simbol perjuangan rakyat Indonesia yang ingin meraih kemerdekaan.

Pelataran puncak dengan luas 11x11 dapat menampung sebanyak 50 pengunjung. Pada sekeliling badan elevator terdapat tangga darurat yang terbuat dari besi. Dari pelataran puncak tugu Monas, pengunjung dapat menikmati pemandangan seluruh penjuru kota Jakarta. Arah ke selatan berdiri dengan kokoh dari kejauhan Gunung Salak di wilayah kabupaten Bogor, Jawa Barat, arah utara membentang laut lepas dengan pulau-pulau kecil berserakan. Bila menoleh ke Barat membentang Bandara Soekarno-Hatta yang setiap waktu terlihat pesawat lepas landas.

Dari pelataran puncak, 17 m lagi ke atas, terdapat lidah api, terbuat dari perunggu seberat 14,5 ton dan berdiameter 6 m, terdiri dari 77 bagian yang disatukan.

Pelataran puncak tugu berupa "Api Nan Tak Kunjung Padam" yang berarti melambangkan Bangsa Indonesia agar dalam berjuang tidak pernah surut sepanjang masa. Tinggi pelataran cawan dari dasar 17 m dan ruang museum sejarah 8 m. Luas pelataran yang berbentuk bujur sangkar, berukuran 45x45 m, merupakan pelestarian angka keramat Proklamasi Kemerdekaan RI (17-8-1945).

Pengunjung kawasan Monas, yang akan menaiki pelataran tugu puncak Monas atau museum, dapat melalui pintu masuk di seputar plaza taman Medan Merdeka, di bagian utara Taman Monas. Di dekatnya terdapat kolam air mancur dan patung Pangeran Diponegoro yang sedang menunggang kudanya, terbuat dari perunggu seberat 8 ton.

Patung itu dibuat oleh pemahat Italia, Prof. Coberlato sebagai sumbangan oleh Konsulat Jendral Honores, Dr Mario Bross di Indonesia. Melalui terowongan yang berada 3 m di bawah taman dan jalan silang Monas inilah, pintu masuk pengunjung ke tugu puncak Monas yang berpagar "Bambu Kuning".

Landasan dasar Monas setinggi 3 m, di bawahnya terdapat ruang museum sejarah perjuangan nasional dengan ukuran luas 80x80 m, dapat menampung pengunjung sekitar 500 orang.

Pada keempat sisi ruangan terdapat 12 jendela peragaan yang mengabdikan peristiwa sejak zaman kehidupan nenek moyang bangsa Indonesia. Keseluruhan dinding, tiang dan lantai berlapis marmer. Selain itu, ruang kemerdekaan berbentuk amphitheater yang terletak di dalam cawan tugu Monas, menggambarkan atribut peta kepulauan Negara Kesatuan Republik Indonesia, Kemerdekaan RI, bendera merah putih dan lambang negara dan pintu gapura yang bertulis naskah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.

Di dalam bangunan Monumen Nasional ini juga terdapat museum dan aula untuk bermeditasi. Para pengunjung dapat naik hingga ke atas dengan menggunakan elevator. Dari atau Monumen Nasional dapat dilihat kota Jakarta dari puncak monumen. Monumen dan museum ini dibuka setiap hari, mulai pukul 09.00 - 16.00 Waktu Indonesia Barat.

Untuk mengunjungi Monas, ada banyak jenis transportasi yang dapat Anda gunakan. Jika Anda pengguna kereta api, Anda dapat menggunakan KRL Jabodetabek jenis express yang berhenti di Stasiun Gambir. Anda pun dapat menggunakan fasilitas transportasi Bus Trans Jakarta. Jika Anda menggunakan kendaraan pribadi, tersedia lapangan parkir khusus IRTI, atau Anda dapat memarkir kendaraan Anda di Stasiun Gambir.

Kantor Pengelola Monumen Nasional

Provinsi DKI Jakarta
Jl. Kebon Sirih No.22 Blok H Lt.IX No.53
Jakarta Pusat

Telp: (021) 382 3041

sumber: id.wikipedia ; www.kaskus.us ; kumpulan.info

Minggu, Oktober 26, 2008

Sumpah Pemuda

Sumpah Pemuda merupakan sumpah setia hasil rumusan Kerapatan Pemoeda-Pemoedi Indonesia atau dikenal dengan Kongres Pemuda II, dibacakan pada 28 Oktober 1928. Tanggal ini kemudian diperingati sebagai "Hari Sumpah Pemuda".

Gagasan penyelenggaraan Kongres Pemuda Kedua berasal dari Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI), sebuah organisasi pemuda yang beranggota pelajar dari seluruh Indonesia. Atas inisiatif PPPI, kongres dilaksanakan di tiga gedung yang berbeda dan dibagi dalam tiga kali rapat.

Rapat pertama, Sabtu, 27 Oktober 1928, di Gedung Katholieke Jongenlingen Bond (KJB), Lapangan Banteng. Dalam sambutannya, ketua PPI Soegondo (lihat Sugondo Djojopuspito) berharap kongres ini dapat memperkuat semangat persatuan dalam sanubari para pemuda. Acara dilanjutkan dengan uraian Moehammad Yamin tentang arti dan hubungan persatuan dengan pemuda. Menurutnya, ada lima faktor yang bisa memperkuat persatuan Indonesia yaitu sejarah, bahasa, hukum adat, pendidikan, dan kemauan

Rapat kedua, Minggu, 28 Oktober 1928, di Gedung Oost-Java Bioscoop, membahas masalah pendidikan. Kedua pembicara, Poernomowoelan dan Sarmidi Mangoensarkoro, berpendapat bahwa anak harus mendapat pendidikan kebangsaan, harus pula ada keseimbangan antara pendidikan di sekolah dan di rumah. Anak juga harus dididik secara demokratis.

Pada sesi berikutnya, Soenario menjelaskan pentingnya nasionalisme dan demokrasi selain gerakan kepanduan. Sedangkan Ramelan mengemukakan, gerakan kepanduan tidak bisa dipisahkan dari pergerakan nasional. Gerakan kepanduan sejak dini mendidik anak-anak disiplin dan mandiri, hal-hal yang dibutuhkan dalam perjuangan.

Sebelum kongres ditutup diperdengarkan lagu "Indonesia Raya" karya Wage Rudolf Supratman yang dimainkan dengan biola (dimainkan dengan biola saja atas saran Sugondo kepada Supratman, lihat juga Sugondo Djojopuspito). Lagu tersebut disambut dengan sangat meriah oleh peserta kongres. Kongres ditutup dengan mengumumkan rumusan hasil kongres. Oleh para pemuda yang hadir, rumusan itu diucapkan sebagai Sumpah Setia.

Para peserta Kongres Pemuda II ini berasal dari berbagai wakil organisasi pemuda yang ada pada waktu itu, seperti Jong Java, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Batak, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, PPI, dll. Di antara mereka hadir pula beberapa orang pemuda Tionghoa sebagai pengamat, yaitu Oey Kay Siang, John Lauw Tjoan Hok dan Tjio Djien Kwie serta Kwee Thiam Hong sebagai seorang wakil dari Jong Sumatranen Bond.

sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Sumpah_Pemuda
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...