Sabtu, September 18, 2010

Peryataannya Stephen Hawking Mematahkan Teorinya Sendiri

Fisikawan Inggris Stephen Hawking yakin bahwa keberadaan manusia dan alam semesta bukan hasil ciptaan Tuhan, melainkan muncul dengan sendirinya.

Dalam bukunya yang berjudul "The Grand Design", sebagaimana dikutip oleh Reuters (31-8-2010) "I believe the universe is governed by the laws of science,". "The laws may have been decreed by God, but God does not intervene to break the laws.".

Selain itu dia juga menuliskan "Because there is a law such as gravity, the universe can and will create itself from nothing. Spontaneous creation is the reason there is something rather than nothing, why the universe exists, why we exist," lebih lanjut Hawking menyebutkan. "It is not necessary to invoke God to light the blue touch paper and set the universe going." (Reuters 2-9-2010)


Membicarakan Tuhan (Allah) sebagai sang pencipta, asy-Syekh al-Akbar Muhammad Daud Dahlan RA dalam ceramah peringatan maulid Rosulullah SAW di mesjid Al-Fattah Jakarta pusat sebagaimana  ditulis oleh  Juftazani menyampaikan.
Jika kita melihat (memperhatikan) kurikulum pendidikan di sekolah, ada mata pelajaran umum dan ada mata pelajaran agama. Kalau mata pelajaran umum, apakah tidak ada hubungannya dengan agama? Apakah tidak ada hubungannya dengan Tuhan? Kalau pelajaran agama, berarti hanya berhubungan dengan agama dan Tuhan saja kah? Alangkah piciknya mereka memandang ilmu yang keseluruhannya sesungguhnya berasal dari Allah Swt.
Dalam ceraramahnya, beliau mencontohkan diantaranya:
Ilmu Biologi...., kalau saja Allah SWT tidak menciptakan makhluk-makhluk hidup di dunia ini, bisakah manusia berpikir tentang anatomi manusia ? atau ilmu-ilmu biologis ? Apakah ilmu biologi itu kepunyaan Tuhan atau kepunyaan manusia?
Apakah makhluk-makluk ciptaan Allah dimana didalam bagian tubuh makhluk itu muncul keilmuan tentang biologi, lalu ilmu biologi itu ilmu yang tidak ada hubungannya dengan Allah sebagai pemilik agama (Dien) dan birokrasi Ilahiyyah? Jika ada hubungannya dengan Allah (agama) berarti ilmu biologi juga adalah bagian ilmu agama. Inilah sebuah kepicikan yang dibangun umat manusia untuk membelakangi Tuhan mereka dengan angkuh dan sombongnya.

Menyabung pernyataan Stephen Hawking "The laws may have been decreed by God,..." menunjukan bahwa ia tidak memiliki keyakinan untuk menyatakan ilmu/hukum alam terjadi dengan sendirinya. Dan menganalogikan apa yang disampaikan oleh asy-Syekh al-Akbar, dalam artian yang lebih luas ketika Allah menciptakan alam tentunya hukum alam melekat di dalamnya (atau sebaliknya ketika Allah menentukan hukum alam tentunya alam juga diciptakan-Nya). Dengan demikian masihkah kita membantah bahwa Alam bukan ciptaan Allah!


Rabu, September 15, 2010

Amankah Trotoar di Jakarta Untuk Berjalan Kaki?

Berjalan kaki dapat mejadi pengalaman yang mengerikan disebagian tempat. Kurang nyamannya ketersedian prasarana dan fasilitas dapat menjadi masalah serius bagi keselamatan pejalan kaki.

Belum lama ini GOOD Megazine menyampaikan daftar 21 kota yang paling berbahaya bagi pejalan kaki di seluruh dunia dengan tingkat kematian yang tertinggi berdasarkan Data dari The New York City Safety and Action Plan, Agustus 2010. Pada urutan pertama dari daftar tersebut Atlanta, Detroit dan Los Angeles dengan tingkat kematian 10,97, 10,31 dan 7,64 per 100.000 penduduk.

Selain kota-kota di Amerika dan Eropa, juga disebutkan kota-kota di Asia yang termasuk dalam daftar tersebut. Yang menarik Tokyo dengan populasi lebih dari 13 juta penduduk, lebih aman bagi pejalan kaki dari Detroit, yang memiliki populasi kurang dari 100.000.

Lalu bagaimana dengan Jakarta, apakah kota ini cukup aman bagi pejalan kaki? Rasanya tidak. Secara umum, kota dengan jumlah penduduk lebih dari 9,5 juta penduduk (sensus penduduk 2010) rasanya belum bemiliki prasarana (trotoar) yang baik untuk pejalan kaki. Belum lagi jalan di Jakarta yang selalu ramai hingga membuat kemacetan tidak jarang membuat pengendara sepeda motor naik ke trotoar.

Sesungguhnya Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas melindungi para pejalan kaki dengan menyebutkan bahwa pejalan kaki memiliki hak atas ketersediaan fasilitas pendukung yang berupa trotoar, tempat penyeberangan, dan fasilitas lain, dan mendapatkan prioritas pada saat menyeberang Jalan di tempat penyeberangan.

Upaya pemerintah untuk meningkatkan prasarana dan fasilitas yang ada pastinya sangat penting untuk mewujudkan area berjalan kaki yang aman dan nyaman di jalan raya. Dan tentunya diperlukan juga ketertiban serta kesediaan masyarakat untuk menggunakan fasilitas dengan sebaik-baiknya dan mengikuti peraturan yang ditetapkan.

Fatalitas Pejalan Kaki per 100.000 penduduk
1. Atlanta 10.97
2. Detroit 10.31
3. Los Angeles 7.64
4. Baltimore 7.54
5. Philadelphia 6.22
6. Chicago 5.89
7. Washington D.C. 5.74
8. Milwaukee 5.68
9. San Francisco 4.33
10. Boston 4.24
11. Seattle 4.12
12. Copenhagen 3.92
13. New York City 3.49
14. Portland 3.39
15. Amsterdam 3.36
16. Paris 3.09
17. London
18. Hong Kong 2.1
19. Tokyo 1.7
20. Berlin 1.6
21. Stockholm 1.23

Kamis, September 09, 2010

Minal Aidin Wal Faizin : Ucapan Idul Fitri Khas Indonesia

"Minal Aidin Wal Faizin - Mohon Maaf Lahir dan Batin", sebuah rangkai kalimat yang sering kita dengar dan ucapkan pada hari raya Idul Fitri. Ternyata ucapan "Minal Aidin Wal Faizin" yang terdengar dan berasal dari untaian kata bahasa arab hanya khas dikenal di Indonesia saja! Frase tersebut ternyata tidak dikenal dalam budaya Arab.

Apakah "Minal Aidin Wal Faizin" memiliki arti kata "Mohon Maaf Lahir dan Batin"? Qaris Tajudin dalam buku berjudul “Bahasa!” terbitan TEMPO, di halaman 177 mengungkapkan bahwa memang frasa Minal Aidin Wal Faizin “berasal dari bahasa Arab, bahasa yang banyak menyumbang istilah keagamaan di Indonesia, baik agama Islam maupun Kristen.” Qaris mengatakan bahwa selain tidak dikenal dalam budaya Arab, frasa Minal Aidin Wal Faizin juga hanya dapat dimengerti oleh orang Indonesia. Frasa ini bisa ditemui dalam kamus bahasa Indonesia, tapi tidak ditemukan dalam kamus bahasa Arab, kecuali dalam lema kata per kata.

Dalam sebuah artikel Wikimu, Agussyafii menyampaikan pendapat yang agak berbeda. Kalimat minal `a'idin adalah kependekan dari do'a Allohumma 'ij`alna minal `a'idin waj`alna minal fa'izin, artinya, Ya Alloh setelah berpuasa ini, jadikanlah kami termasuk orang yang bisa kembali (ke fitrah kami) dan sukses.

Jadi, "Minal Aidin Wal Faizin" merupakan ungkapan budaya lokal Indonesia yang diyakini sudah cukup lama berkembang di masyarakat.

Penggunaan kalimat "Minal Aidin Wal Faizin" yang lebih sesuai dengan makna yang seharusnya adalah sebagai kalimat penutup ucapan yang lebih lengkap di akhir bulan puasa: "taqabbalallahu minna wa minkum wa ja’alanallahu minal ‘aidin wal faizin" yang artinya "Semoga Allah menerima amalan-amalan yang telah saya dan anda kerjakan dan semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang kembali kepada fitrah dan orang-orang yang mendapatkan kemenangan".

Ya..! Semoga Allah menerima amal ibadah kita dan menjadikan kita sebagai mahkluk fitrah selalu berada dalam ridha dan perlindunganNya. Amin.

Dan sebagai orang Indonesia izin kan saya (dan keluarga) mengucapkan:

Minal Aidin Wal Faizin 

Selamat Idul Fitri 1431 H

Mohon Maaf Lahir dan Batin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...